Belajar, Sabar
Sabar sabar
Belajar
Sabar untuk belajar
Belajar yang sabar
Belajar butuh sabar
Belajar belajar
Belajar untuk sabar
Sabar butuh belajar
Sabar mencintai
Balajar dicintai
Belajar belajar, sabar sabar
Belajar yang sabar
8/11/2011 #galau 1
Jangan Emosi
Emosi? Jangan!
8/11/2011 #galau 2
Semua untuk Satu
Satu, dua, tiga, ...
Tingal satu:
kamu
8/11/2011 #galau 3
Kadang
Kadangku kamu
Kadangku mata mu
Kadangku rambut mu
Kadangku bibir mu
Kadangku dagu mu
Kadangku pipi mu
Kadangku telinga mu
Kadangku leher mu
Kadangku tangan mu
Kadangku lengan mu
Kadangku pundak mu
Kadangku dada mu
Kadangku payudara mu
Kadangku perut mu
Kadangku bulu mu
Kadang ku vagina mu
Kadangku pahamu
Kadangku betis mu
Kadangaku jempol mu
Kadangku: Kadang-kadang
Kadangku rayumumu
Kadangku senyummu
Kadangku marahmu
Kadangku sedihmu
Kadangku hasratmu
Kadangku nafsumu
Kadang ku dan kamu
Selalu begini
8/11/2011 #galau 4
Sabtu, 04 Februari 2012
ORANG KEPERCAYAAN
Oleh : Wima Ariya Menggala
Oleh : Wima Ariya Menggala
Bapak saya sangat bercita-cita melihat anaknya menjadi seorang guru. Kepala sekolah, itu mungkin kata yang lebih tepat seperti nya, karena melihat posisi bapak saya yang empat kali kepengurusan sebagai kepala sekolah dan tak sempat lengser.
“ maaf, saya mendengar perbincangan bapak dan ibu, bapak ingin menguliahkan saya di universitas pendidikan? Betul?” celetuk ungkapan kosong saat satai di depan TV.
“betul” bapak saya mengangguk.
“ kenapa harus universitas pendidikan? Bapak ingin jadikan saya guru?” sahut saya.
“iya” …
Bapak saya tampak tenang, tanpa bersalah, dan berpindah ke kursi tamu depan ruangan membaca majalah pendidikan. Itu malapetaka bagi saya. Saya masih belum percaya apa yang saya dengar barusan. Sampai saya kuliah di universitas pendidikan berarti itu akan memotong cita-cita saya menjadi seorang pemilik pabrik. Dalam sebuah teori matematika guru ditambah kehidupan sama dengan pengabdian, pengabdian tak jauh dari kata keterikatan, keterikatan sama dengan terkekang, dan terkekang tak jauh dari sebuah penderitaan. Saya tidak akan jauh mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.
Mata saya melirik ibu saya. Dia membalas dengan tatapan lembut, sebuah keputus asa an. saya pun menghadap ke mata itu.
“itu sudah keputusan, Taksu anak ku” jawab ibu yang seolah mengerti pertanyaan dalam mataku.
“itu, tidak demokratis ibu, itu sepihak, bu, e’ … ” ibu memotong sanggahan ku dengan memalingkan sosok keibuan dan pergi kedapur.
Saya dibiarkan diruang tengah didepan TV yang tidak tahu apa maksudnya. Saya duduk bermaksud menenangkan diri. Dan itu membuatku berperang dengan pikiran ku sendiri. Saya tidak mungkin menjadi guru. Itu bukan sebuah kehidupan yang saya harapkan. Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar.
Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Paling banter mereka naik Sedan bobrok, mentok Xenia, Avansa, itupun secont atau itu hasil korupsi dana-dana pembangunan sekolah. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani atau ternak seperti bapak.
Profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita kan harus tinggi. Dan saya, Taksu Wibawa pantas mendapat sebuah kedudukan yang lebih berkelas. Memiliki pabrik ratusan. Penghasilan milyaran. Masak jadi guru? Itu cita-cita orang kecil, itu namanya menghina diri sendiri dan ujung-ujungnya menghina orang tua juga. Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Orang pada enak-enak an tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Dari pada jadi guru sekaliaan saja bilang sama Tuhan kalau saya daftar ke neraka.
*
Minggu pagi seperti biasa terjadi, ayam berkokok, fajar menyinari kolam ikan di depan kamarku. kambing dibelakang rumah berteriak-teriak protes kepada pemiliknya, mereka seakan mengerti perasaan anak dari pemiliknya, begitu terharu saya mendengarkan.
Benar, saya harus protes atas ketidakadilan ini. Saya pergi kebelakang untuk menemui pemilik kambing itu__bapak saya__ . Saya menengok ke samping kanan samping kiri tak melihat ibu atau bapak. Ibu pasti kepasar yang tak jauh dari rumah untuk membeli keperluan untuk di masak. Saya beranjak menuju kedepan rumah untuk mencari dimana bapak saya, disana hanya ada Taski bermain sendiri, adik satu satunya yang masih duduk di Sekolah Dasar. Saya mengamati dia membuat rumah-rumahan dari kaleng bekas. Memang adik saya ini gemar sekali menciptakan sesuatu dari barang-barang bekas.
Tak lama bapak dari jauh terlihat, dia mengandarai motor sambil membawa setumpuk pakan kambing. Bapak saya terlihat sangat kotor sekali dan lelah, sepertinya dia dari subuh berangkat mencari pakan kambing di kebun.
Ini lah yang saya maksud dengan rumus matematika, ini lah yang dimaksud menjadi seorang guru, ini lah yang di harapkan bapak saya. Lihat masa depan guru, dan jika saya tetap menjadi guru itu dinamakan penghinaan.
Saya menyambut bapak saya yang seperti nya sangat capek. Jika kalau saya protes sekarang, tidak akan menghasilkan apa-apa. Benar, sedikit iming-iming pasti membuat bapak saya memenuhi kemauan saya.
“wah, bapak kok tidak mengajak saya tadi, kan saya libur, bisa bantu-bantu!”
sambut saya dengan melepaskan tali pengikar pakan kambing lalu berusaha mengangkat walau sangat berat, tapi saya usahakan tetap mengangkat.
“oh iya, bapak bisa langsung mandi saja, biar saya saja yang memberi makan dan minum, sekalian nanti saya bersihkan kandangnya” saya sedikit merayu.
“kalau begitu, sekalian nanti sampahnya dibakar! kambing betina yang dipojok utara mau melahirkan, nanti kamu keluarkan, kamu bersihkan bulunya juga.” Tambahan pekerjaan dari bapak.
“ … : sambut ku tanpa kata dan sedikit tercengang.
“ oya, nanti kamu bantu juga tukang yang mau benai kandang, bapak ada rapat kepala sekolah di kota” sabut bapak saya.
Malam harinya, alih lagat membawakan kopi, saya memutuskan untuk menanyakan lagi keputusan bapak saya untuk menguliahkan saya universitas keguruan.
“ bapak kan sudah bilang, kalau keputusannya kamu harus kuliah di unversitas keguruan” kata bapak dengan tegas.
“ tapi kan saya juga bilang, saya tidak mau, pak!” sambut saya
“ keputusan adalah keputusan, Taksu” sambut suara ibu dari ruang yang lain yan hanya terpisahkan oleh pintu.
Sekarang malah ibu semakin mendukung bapak, saya terpojok dan bingung harus mengumpat seperti apa lagi. Saya tahu ibu tak pernah melawan apa perkataan bapak saya. Kepusan bapak saya adalah keputusan mutlak dikeluarga ini.
“ini Negara demokrasi kan? Semua orang bebas memilih dan menetukan apa yang dipilih!” sambut saya sambil berjalan menuju ketengah pintu untuk berusaha terlihat ibu dan bapak.
“masa depan guru yang terbaik, Taksu. Itu yang sudah dijanjikan pemerintah” ungkap bapak saya tanpa memperhatikan saya.
“ terbaik bapak bilang, pemerintah sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti saya, yang akan terus di paksa. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti saya adalah orang tua. Bapak tertipu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang menjadi lemah hati,” saya pun sambut kaliamat penuh emosi.
“sudahlah kamu percaya saja, bapak tau masa depan guru akan semakin baik” sambut ibu
“apa, bapak bukan jenis orang yang suka dipuji kan? bapak sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Pak. Jangan bapak takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin saya bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi kan, pak?. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa saya menghabiskan hidup untuk sesuatu yang tidak berguna?” sambut pajang saya.
“sudah” bapak menatap saya dengan kejam. “ bapak sudah menyuruh, kepala BK disekolah kamu, untuk mendaftarkan ke universitas keguruan. Pendidikan Sastra Indonesia. Itu jurusan kamu.”
“eee…” saya ingin protes lagi tapi bapak meninggalkan ruang tamu menuju ke kamar
“Ibu, harus membantu saya, buk, ibuk,…” ibu juga meningalkan saya dengan kesibukan dapur.
Malam enggan meninggalkan saya, malam terasa sebagai halusinasi keputusasaan. Kegelapan menggambarkan hidup tidak sesuai bayangan.
**
Pagi enggan membuat berdiri. Ikan-ikan sembunyi dari cahaya matahari. Suara kambing terdengar sumbing. Mungkin mereka juga putus asa.
“Taksu, kamu tidak sekolah?” ibu menyahut sambil menotok pintu kamar.
“lagi males , buk?” sambut saya
Saya orang yang tak mudah putus asa, walau sepertinya saya putus asa, tapi sebenarnya ini salah satu cara saya. Siapa tau mereka akan sadar melihat anaknya depresi kemudian mereka akan memenuhi keinginan saya. Negatif bertemu negatif pasti menghasilkan positif, itu rumusnya. Mudah-mudahan penderitaan saya ini akan membimbing mereka ke jalan yang benar.
Kemudia siang, kemudian sore, mendekati malam. Terus saya tunggu, saya sebenarnya menunggu mereka membatalkan keputusanya. Tapi sepertinya saya harus protes lagi, karena memang orang tua sulit memperhatikan anaknya, orang tua yang selalu minta diperhatikan oleh anaknya.
“apa bapak masih berniat menjadikan saya guru” sambut saya ketika bapak mengerjakan tugas dari sekolah.
“ keputusan adalah keputusan, Taksu” sambut ibu yang membawakan kopi untuk bapak dari belakang.
“tapi saya tetap tidak mau” potong saya.
“Taksu,” senggal bapak saya dengan nada marah. Saya menjadi sangat gugup, karena bapak saya jarang semarah ini. “nama kamu, Taksu Wibawa, kamu anak seorang guru Ariya Wibawa, kamu malu menjadi seorang guru? Berarti kamu malu menjadi keluarga Wibawa. sekarang itu kamu malas. Kamu jarang masuk sekolah, kamu hanya mau main-main, tidur-tiduran, pacaran. kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek atau sepedah ontel, kamu bilang umar bakri, umar bakri. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup mu nanti. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini.” tambah bapak saya.
“nah, bapak tahu, bapak ingin melihat masa depan anak mu seperti itu? Sepatu butut, sepedah ontel, dan muka layu kurang gizi?” ungkap saya gugup.
“iya,, karena bapak tahu kamu orang hebat, jika merasakan seperti itu, merasakan kesengsaraan, Taksu Wibawa pasti orang pertama yang akan meneriakkan, memperjuangkan martabat dan kesejahteraan guru. Kamu berbeda, walau kamu nakal tapi kamu selalu berprestasi. Lihat lemari kebanggaan bapak ini, penuh dengan piala-piala pertasimu.” Sambut bapak saya.
Saya pun mulai terbuka dengan alasan yang di ungkapkan bapak saya. Dan tidak sanggup lagi menyahut sepatah katapun.
“sekarang semua keputusan ada padamu. Kamu masih bisa membatalkan ke pikak sekolah. Kamu bisa memilih universitas yang cocok sesuai kemauan mu. Bapak dari awal selalu percaya dengan mu, karena nama mu Taksu Wibawa, Taksu Wibawa, Taksu Wibawa. Yang akan membuat terhormat keluarga dan negara”
Malam terus berganti, terhitung waktu, hingga kini
***
Pagi membuka mata ku pada sebuah kecerahan, kecerahan ini seakan melukis bayangan yang padam. Tiga tahun yang lalu saya masih orang yang layu dan kini lebih segar. Karena saya adalah seorang calon guru. Dan jika sekarang saya ditanya apa cita-cita mu. Dengan bangga Taksu Wibawa menjawab,
“Seorang guru yang memiliki seratus pabrik dan penghasilan milyaran, sehingga menjadi inspirasi bagi murid-muridnya.”
****
Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yang akan datang.
(Putu Wijaya : Guru)
cerpen
Mr. M
Oleh : Wima Ariya Menggala
Sudah lama sekali saya mengasingkan diri ke kota besar yang memiliki gedung-gedung besar, dan munkin sayalah salah satu dari sekian juta manusia yang merantau disana. Dan lebaran tahun ini saya kembali ke sebuah tempat, tempat menanam batur lahir, bukan desa, bahkan bisa dibilang separo desa karena tempat ini jauh dari kantor desa. Memang setiap tahunnya saya ada disini dengan dalih mengujungi warisan keluarga. Saya merasa asing karena setiap gelagat manusia disana memandang dengan penuh kecurigaan. Memang saya merasa ada yang aneh pada diri saya. Saya terlihat berbeda. Kebetulan tempat tinggal saya kali ini berbeda dari tahun sebelumnya, rumah singgah waktu kecilpun sudah dijual untuk menutupi utang-utang keluarga sejak kematian kedua orang tua. Tidak buruk karena sebuah kewajaran , akhir hayat pasti semua kembali kepada Sang Kuasa.
Malam itu malam takbir, mata saya terkatup katup karena lelah perjalanan, tubuh terasa berat lengan pinggang terasa mau patah. Suara bising teropong masjid yang terlihat dari ruas-ruas lubang jendela kamar diselimuti awan hitam membuat sedikit keraguan untuk pergi ke sana. Saya tidak merasa terganggu dengan hal itu. Kadangkala, saya hanya berfikir alangkah lebih baiknya suara masjid itu dijauhkan dari telinga saya. Kamar berukuran 3x3 yang saya sewa mahal dari seorang keluarga tukang ojek yang saya temui di pingir jalan yang jauh dari tempat ini, seharusnya ada hak khusus untuk menghindarkan saya dari keramaian di malam ini.
Kegelisahan malam itu berlanjut semakin gelap, seperti gelapnya hati saat ini, dan saya berniat membersihkan diri. Cukup jauh kamar mandi dari rumah ini dan kemudian disebut pemandian umum. saya berniat meminta bantuan ibu, istri tukang ojek itu. Cekikian terdengar beberapa saat setelah saya membuka pintu kamar, tak kuasa saya pun mengintip dari balik tembok pohon bambu itu. Anak kecil menari-nari kegirangan mencoba gaun berwarna merah muda. Saya pun urung menggangu kesedihan keluarga tukang ojek, meskipun saya tau dia sudah menarif kamarnya begitu mahal.
Tak lama berselang, setelah pemandangan menyedihkan itu saya mengingat-ingat jalan kamar mandi umum yang jauh dan begitu gelap yang ditunjukan istri tukang ojek sewaktu saya datang. Obor disamping kiri pintu belakang, saya bawa untuk sedikit pencerahan, maklum diawal sebenarnya saya ingin protes kenapa begitu kekurangan penerangan di daerah ini, tapi tak sempat saya tanya, istri tukang ojek itu sudah menjawab dengan unek unek pengakuan kesalahan jika mereka kesulitan dana membangun kamar mandi dalam rumah. Entah apa yang dia pikirkan saat itu, memang wajahnya begitu menyedihkan. Saya pikir mereka menggunakan topeng dalam topeng, masih sempat cekikian dikeadaan yang jauh dari kesempurnaan. Tidak lama pun saya sampai di pemandian umum. Satu kamar mandi untuk pria ukuran besar dan dibaliknya dua pintu untuk wanita. Kelihatannya sepi, tapi pintu kamar mandi itu tertutup dan di tempat obor yang sore tadi kosong sekarang jadi berisi, kesimpulan saya kamar mandi ini lagi digunakan.
Lima menit saya menunggu, tapi tidak ada tanda tanda ada manusia, minimal suara gayuh atau apa pun itu, yang terdengar hanya suara gremicik air yang dari awal saya datang memang sudah seperti itu. Dan itu membuat saya memutuskan mengetuk pintu kamar mandi. Satu sampai tiga kali ketukan ”tok, tok,tok” saya pikir cukup, tanpa suara dan saya kembali menunggu. Tidak lama berselang, saya pun kehilangan kesabaran, saya ketuk lagi satu sampai tiga kali dan kali ini saya menggunakan suara. “ … ,hoi ” saya pikir hanya orang bisu yang tidak menyahut suara saya, walau dia bisu dia pasti akan memberi tanda tanda akan kebisuannya. Tapi ternyata tidak berasil juga, malah semakin sepi,. Gremicik air mati, apa ini dia yang memberi tanda ataukah saluran dari atas mati, karena saya sedikit banyak tahu kalau orang sekitar sini menggunakan sumber air sebagai pemandian umum. Tidak kuasa menahan kesabaran, dari tadi saya hanya menggunakan logika untuk berfikir dan tidak semua segala sesuatu bisa menggunakan logika, dan hal itu tepat untuk hal ini. Tidak saya pikir panjang lagi, saya ketuk pintu sekeras-kerasnya sambil sedikit mendorongnya, siapa tau tidak di kunci. Dan hasilnya sekali lagi nihil, tidak ada tanda tanda sama sekali.
Heran, penasaran, marah, putus asa, dan selain itu saya pun sukar untuk menjelaskannya, alasan itu saya memutuskan untuk kembali saja. Pikir saya apakah pintu kamar mandi ini rusak,dan juga ketika saya ditunjukan pertama kali kamar mandi umum ini, saya tidak mencoba membukanya. Satu lagi keinginan protes saya ke keluarga tukang ojek. Tidak di kota tidak di desa semuanya sama, memang benar ini proses pemerataan pembangunan Negara tapi apakah tidak sebaiknya kita semua tidak membangun Negara ini dari sebuah kekecewaan.
*
“ lo, mas. Tak kira sampean tadi sudah tidur, kok tidak ada suaranya” sahut istri tukang ojek. Sebenarnya enggan untuk menjawabnya, karena keinginan saya protes pun gagal, melihat dia mengendong anaknya yang ngempeng dott susu yang berisi air gula.
“kamar mandi umum itu, pintunya rusak ya, buk?”
“ wah biasanya tidak low, mas, apa lagi besok lebaran, kalau rusak sudah diperbaiki sama warga. mungkin masih ada orangnya, atau kalau kamar mandi perempuan kosong pakai aja, mas ” jawabnya tanpa rasa bersalah.
Memang menurut saya masuk akal, bagaimana kalau kamar mandi tidak beres mereka akan kebingungan menuju arak-arak an besok. Karena mungkin sekitar 10 sampai 15 an kepala keluarga mengunakan pemandian umum itu kalau pun tidak cukup waktu mereka memilih berjalan sekitar satu kilo ke sungai.
Tidak masalah kalau begitu, saya pun berangkat lagi ke pemandian umum itu, jika nanti masih tertutup pintu kamar mandi pria, saya bisa menggunakan kamar mandi wanita dan pastinya kamar mandi wanita lebih bersih. Dan jikalau nanti ada orang nya juga, saya putuskan untuk tidak mandi atau saya akan protes ke keluarga tukang ojok untuk meminta potongan biaya penginapan, itu sepertinya lebih adil.
Sebegitu sulitnya untuk membersihkan diri, sampai-sampai untuk mandi saja harus menguras pikiran seperti ini. Sambil berjalan saya berfikir, apakah orang yang berteriak teriak di masjid itu sudah benar-benar bersih. Ataukah dengan mereka cukup menghadapi bulan yang setiap tahun datang dan setelah itu arak-arak an sambil bermaaf-maafan menghapus semua dosa mereka. Kalau pun itu benar berarti tidak ada keadilan di dunia ini, bahkan Tuhan pun belum bisa bersikap adil. Hanya membasuh keringat saja sudah sebegitu membingungkan seperti ini.
Dari kejahuan masih terlihat obor di depan samping pintu kamar mandi itu, kalau pun ada orang nya saya yakin dia sudah pergi karena cukup jauh rumah keluarga tukang ojek dari pemandian umum. Sesampai di dekat pintu, kembali pintu yang tertutup itu saya dorong dan masih sulit terbuka, seperti terkunci dari dalam. Saya putuskan untuk menggunakan kamar mandi wanita, tepat seperti bayangan saya kamar wanita lebih bersih meskipun saya belum melihat kamar mandi pria.
Karena gelap sekali saya bawa obor itu masuk ke dalam, alih glagat, memang sengaja untuk mengasapi kamar mandi pria yang memang satu atap dengan kamar mandi wanita. Setelah menaruh obor, handuk dan kotak sabun, saya-pun melucuti persenjataan pelindung tubuh mulai dari hem, dilanjutkan ikat pinggang dan dan terakir celana dalam. Sedikit pembugaran tubuh, “ jebur, jebur, jebur, jebur,jebur,,, hahhh”
“ glodak, gelodak, klethook, tok, klotok…”
Sepertinya ada suara di kamar mandi pria, saya pun diam sejenak mendengarkan suara itu lagi. “ …” . Nihil, tidak lagi terdengar suara, apa mungkin sebuah halusinasi. “Hah” saya merasa hidup penuh kesengsaraan, dan saya melanjutkan menggambil dave, mengusap rambut sambil memijat-mijat kepala.
“ hrekk, kqqeeek, juhh..”
Sepertinya ada suara, dan saya kali ini mendengar dengan pasti, saya yakin jika di kamar mandi pria ada manusia. Sialan saya di kerjain sama orang ini, saya merasa tersinggung, menyaut handuk dan keluar dari kamar mandi wanita menuju depan pintu kamar mandi pria. Hanya memakai handuk kecil dengan rambut masih berbusa, saya sekali lagi mendengarkan suara yang ada di dalamnya tapi tetap tidak terdengar apa apa lagi. “dok, dok dok… heh jangan main-main” sambut saya. Tetap saya tidak mendengar apa-apa bahkan tambah sepi. Saya pun sedikit menjauh dari pintu. Jongkok. Mengambil batu dan melempar kedalam kamar mandi pria lewat lubang angin. “klotok, klotok, kelotok”. Sekalian biar mampus kena batu. Tetap tidak ada suara kaget atau teriak kena batu. Atau mungkin tidak kena, saya pun mengambil pasir dan kembali melempar ke dalam kamar mandi itu, dengan harapan pasir itu masuk kematanya kemudian dia berteriak. “ kretek, kretek, kretek, rasakan” sambut saya. Tetap sepi tiada arti sebagai tanda kehidupan yang ada di dalamnya.
Heran, penasaran, marah, putus asa, dan selain itu, seperti diawal, sukar untuk dijelaskan. Saya kembali ke kamar mandi wanita, membilas rambut, tanpa menggunakan sabun, dan menyudahi mandi yang tidak membuat bersih itu. Saya pun segera memakai celana, tanpa dalaman, dan hem dengan kancing paling atas masih terbuka. di sela-sela kaki melangkah di bak dekat sumber air terlihat wing. Melihat benda yang super licin itu teringat dendam yang bertubi-tubi menimpa saya. Saya menggambilnya dan mengoleskan-oleskan secara merata di depan pintu kamar mandi pria tidak lupa saya mematikan obor didekat pintu itu. Gelap ditambah licin sama dengan takdir akan menimpanya.
**
Suara teriakan masjid dan bau asap dapur membuat tidur jadi tidak tenang. Saya memutuskan untuk bangun menyabut subuh dihari lebaran pertama ini dan alasan yang lain saya ingin menghargai Tuhan yang menciptakan dunia.
“ eh, mas nya sudah bangun, kalau mau mandi segera antri mas, soalnya inikan hari lebaran, pasti pemandian umum sudah ramai, dari pada nanti harus mandi ke kali, malah gak bisa ikut sholat idd ” sambut bapak.
Mendengar kata pemandian umum saya teringat dendam pada seseorang yang misterius se malam. Bagimana pun nasibnya, teori tetaplah teori, gelap ditambah licin sama dengan takdir yang akan menegurnya. Saya pun bergegas ke kamar mandi umum itu, memang benar ramai sekali keadaanya. Mendekati kamar mandi saya ditegur oleh istri tukang ojek, saya disuruh hati-hati karena kamar mandinya licin. Kabarnya ada seorang pengurus masjid yang terpeleset sampai kepalanya pecah dan dibawa ke rumah sakit, kebetulan dia akan menjadi imam saat sholat idd sehingga warga bingung mencari gantinya. Diam yang hanya bisa saya lakukan, sedikit takut, tapi setidaknya dendamku sudah terbalas, dan tidak ada yang menggagu di malam-malam selanjutnya.
***
Lebaran tanpa keluarga membuatku iri pada kesengsaraan dibalik tawa keluarga tukang ojek. Seharian waktu, saya habiskan kekebun warisan sampai larut malam, dan sampai lagi kekamar mahal ukuran 3x3 itu. Rasa capek dan gerah membuat saya ingin menyegarkan diri, saya ambil obor sekaligus membawa perlengkapan mandi dan kali ini saya membawa celana dalam ganti menuju pemandian umum. Tidak ada rasa ragu lagi kali ini, karena saya sudah memecahkan kepala orang yang selalu membuat kerusuhan di masjid dan di kamar mandi umum. Tidak lama berselang kamar mandi itu sudah terlihat, dari titik kejahuan terliahat obor yang menancap di tempat obor, sama persis dengan kejadian semalam. Saya pun mendekat ke depan pintu dan melihat apakah itu obor yang sama dengan obor yang ada semalam. Dan ternyata benar, bahkan di sebelah obor itu ada batu, setumpuk pasir, dan wing. Tanpa mengetuk pintu kamar mandi lagi, saya memutuskan untuk urung membersihkan diri, dan kembali untuk beristirahat.
****
Malam adalah malam.Misteri tetaplah misteri. Terlepas pada teori teori. Malam akan senantiasa membawa misteri. Heran, penasaran, marah, putus asa, dan selain itu pun, saya sangat sukar untuk menjelaskannya.
Langganan:
Postingan (Atom)