Sabtu, 11 September 2010

Risiko Jika Plasenta Terlepas dari Rahim

Jakarta, Normalnya plasenta selalu menempel di rahim hingga saatnya bayi tersebut dilahirkan. Apa risikonya jika plasenta tersebut memisahkan diri dari rahim sebelum bayi lahir?

Kondisi jika sebagian atau seluruh bagian plasenta terlepas dari rahim sebelum bayi dilahirkan disebut dengan placental abruption.

Hal ini merupakan salah satu komplikasi serius dari kehamilan yang bisa berbahaya bagi janin yang dikandung dan juga ibunya. Karena plasenta adalah tempat untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen dari ibu ke bayi yang dikandung.

Placental abruption biasanya terjadi pada satu dari 200 kehamilan dan paling umum pada usia kehamilan 20 minggu atau saat memasuki trimester ketiga. Namun ada kemungkinan kondisi ini terjadi kembali di kehamilan berikutnya.

Dikutip dari Babycenter, Selasa (7/9/2010) jika plasenta terlepas dari rahim, maka kondisi ini menyebabkan bayi kehilangan asupan oksigen dan juga nutrisi sehingga meningkatkan risiko masalah pertumbuhan pada bayi seperti bayi lahir prematur atau bayi meninggal. Selain itu juga menyebabkan perdarahan parah yang bisa membahayakan nyawa keduanya.

Plasenta yang terlepas dari rahim akan menimbulkan perdarahan di vagina. Perdarahan yang terjadi ini biasanya lebih berbahaya dibandingkan dengan komplikasi plasenta previa. Karena pada placental abruption perdarahan yang muncul terkadang tidak sebanding dengan perdarahan yang terjadi di dalam tubuh, atau darah tetap berada di dalam rahim.

Hal ini membuat dokter sulit untuk memperkirakan berapa jumlah darah yang sebenarnya keluar. Jika kondisi ini terjadi maka bisa menyebabkan janin yang dikandung meninggal atau ibu mengalami syok.

Gejala yang muncul sangat beragam, namun biasanya ditandai dengan bercak atau perdarahan dari vagina. Jika kondisi tersebut terjadi, sebaiknya segera ke rumah sakit untuk melakukan evaluasi lengkap, termasuk memantau denyut jantung bayi dan USG (meskipun abruption kecil tidak selalu dapat dideteksi oleh USG). Selain itu dokter juga akan melakukan peemriksaan vagina dan leher rahim.

Jika komplikasi ini terjadi mendekati perkiraan tanggal melahirkan, maka dokter akan segera mengeluarkan bayi meskipun abruption yang terjadi kecil. Dalam kebanyakan kasus seseorang harus melahirkan secara caesar.

Namun jika abruption yang terjadi kecil, kondisi keduanya dalam keadaan baik-baik saja dan bayi masih terlalu prematur, maka ibu hamil kemungkinan diberikan kortikosteroid untuk mempercepat pengembangan paru-paru dan mencegah masalah lain yang terkait dengan persalinan prematur.

Ibu Hamil yang Sedih Cenderung Lahirkan Bayi Kecil

Jakarta, Asupan nutrisi saja tidak cukup bagi ibu hamil, sebab kondisi kejiwaan juga mempengaruhi kandungannya. Ibu hamil yang selalu merasa sedih cenderung melahirkan bayi dengan berat badan rendah, yang rentan mengalami kematian.

Temuan ini membuktikan bahwa kesehatan mental sangat mempengaruhi kesehatan dan tingkat kematian bayi yang dilahirkan. Pengaruhnya bahkan bisa disejajarkan dengan kemiskinan, kurang gizi dan status sosial-ekonomi yang rendah.

Dikutip dari Sciencedaily, Minggu (29/8/2010), peneliti dari Karolinska University dan Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC) menyimpulkan hal itu setelah mengamati 720 wanita hamil di Bangladesh. Partisipan diambil dari 2 subdistrik perkampungan miskin di negara tersebut.

Pada trimester ke-3, para partisipan menjalani tes untuk mengukur tingkat kegelisahan dan gejala-gejala depresi klinis. Terungkap 18 persen di antaranya menderita depresi dan 25 persen mengalami kegelisahan.

Peneliti lalu mengamati berat badan bayi, 48 jam setelah dilahirkan. Ternyata, para partisipan yang mengalami depresi dan kegelisahan dalam masa kehamilan lebih banyak melahirkan bayi dengan berat badan rendah.

"Hal ini sangat mengkhawatirkan, sebab berat badan yang rendah pada bayi yang baru lahir erat kaitannya dengan tingkat kematian," ungkap Hashima-E- Nasreen yang memimpin penelitian tersebut.

Di wilayah Asia Selatan termasuk Bangladesh, kesehatan ibu dan anak terhitung masih memprihatinkan. Oleh karenanya, salah satu prioritas Millennium Development Goal di wilayah tersebut adalah menekan tingkat kematian bayi.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Aerobik Air Kurangi Rasa Sakit Saat Persalinan

 
Sao Paulo, Hampir setiap wanita ingin memiliki anak, tapi kebanyakan merasa takut untuk menjalani proses persalinan. Tapi wanita yang sering melakukan aerobik air selama kehamilan dapat meringankan rasa sakit saat melahirkan.

Ilmuwan Brazil telah menemukan bahwa mengambil kelas aerobik air atau aqua aerobics selama kehamilan dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses persalinan secara keseluruhan.

Para ilmuwan dari University of Campinas, Sao Paulo, melakukan studi yang menguji 71 orang ibu hamil. Setengah dari partisipan mengikuti sesi latihan aerobik air selama 50 menit di kolam renang tiga kali seminggu.


Hasilnya, 73 persen partisipan yang mengikuti aerobik air tidak memerlukan obat penghilang rasa sakit atau analgesik selama persalinan.

"Ini menunjukkan bahwa aerobik air bisa membuat wanita pada kondisi psikofisik yang lebih baik," ujar Rosa Pereira dari University of Campinas, seperti dilansir dari Dailymail, Minggu (12/9/2010).

Aerobik air dan berenang dianggap sebagai jenis olahraga kebugaran yang paling tepat untuk periode kehamilan. Air menghilangkan tekanan pada tulang, sendi dan ligamen serta memberikan tekanan optimal pada otot-otot dan sistem kardiovaskular wanita hamil.

Selain itu, olahraga air juga membantu menghilangkan stres dan belajar bagaimana bernapas secara ritmis, sehingga mempersiapkan napas wanita saat persalinan.

Merry Wahyuningsih - detikHealth