Rabu, 07 Desember 2011

Kurangi Nyeri Haid dengan Vitamin E

Satu kapsul berisi minyak esensial dan vitamin E ternyata mampu  mengurangi gejala nyeri menstruasi pada wanita. Pada sebuah uji coba, suplemen tersebut mampu mengurangi 2/3 rasa sakit yang biasanya datang menjelang masa menstruasi wanita (PMS).

Walaupun kadang dilihat sebagai gangguan kecil, PMS dapat mengganggu aktivitas wanita. Lebih 40 persen bahkan mengatakan bahwa PMS menggangu kulitas hidup mereka. Pada kasus ekstrem, wanita dapat melakukan tindakan kekerasan dan menderita depresi. 

Bahkan, PMS menuai dampak ekonomi Demi membebaskan diri dari sindrom ini, banyak pekerja wanita di Inggris yang rela menghabiskan 3.000 poundseterling agar tidak tersiksa saat bekerja. Mulai dari diet sederhana untuk merubah hormon sampai obat antidepresi dicoba. Padahal, itu belum tentu bekerja maksimal, bahkan tak jarang memunculkan efek negatif.

Dalam studi itu, 120 wanita ditanya mengenai sakit pada perut, kecapaian, sakit dan nyeri saat menjelang menstruasi. Sebanyak 80 wanita meminum pil mengandung lemak dan vitamin E yang terkandung dalam kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran-sayuran warna hijau. Sementara sisanya meminum pil penghilang rasa sakit.

Semua koresponden tersebut diperintahkan untuk meminum dua kapsul sebelum tidur menjelang masa menstruasi. Mereka pun diperintahkan untuk menuliskan gejala-gejala yang muncul setelah tiga bulan dan setelah enam bulan.

Mereka yang meminum vitamin E mengatakan gejala PMS menurun setelah tiga bulan. Setelah enam bulan, efek yang dimunculkan sangat dramatis, terutama bagi mereka yang meminum pil tersebut dengan dosis yang lebih tinggi.

Para peneliti dari Pernambuco Federal University di Brazil mengatakan bahwa vitamin E mengurangi sensitivitas tubuh akan prolactin, hormon yang bertanggung jawab atas nyeri pada payudara.

Jadi tidak ada salahnya meminum vitamin E. Selain bermanfaat besar untuk mengencangkan kulit, ternyata vitamin E dapat mengurangi sakit PMS. Anda pun tidak perlu lagi meminum obat-obat penghilang rasa sakit yang berbahaya.

Kamis, 01 Desember 2011

Lebih Baik Hamil Sebelum Usia 35 tahun

Keinginan mengejar karier membuat sejumlah wanita menunda berumah tangga atau memiliki anak. Banyak wanita baru mempersiapkan pernikahan di atas usia 35 tahun, saat  merasa telah memiliki kehidupan mapan secara finansial dan stabil secara psikologis. 

Di Amerika Serikat, dua dekade silam, jumlah wanita hamil di usia 35 tahun ke atas sebesar 2,5 persen. Namun, 10 tahun terakhir, jumlahnya naik tajam hingga 20 persen. Di Indonesia, kecenderungan serupa pun terjadi.

Obstetri dan Ginekolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, Didi Danukusumo SpOG (K), mengatakan, semakin tua usia wanita hamil, semakin besar risikonya. Berikut beberapa hal yang membayangi kehamilan pada usia matang.

Kelainan Kromosom
Kehamilan menjelang usia 40-an merupakan kehamilan sisa sel telur.  Kemungkinannya, sel telur yang dilepas bukan lagi sel telur subur dan sehat. Sehingga, potensi kelainan kromosom atau bawaan makin besar. Batas aman secara statistik untuk hamil adalah usia 37 tahun. "Namun lebih baik jika dibawah 35 tahun," ujarnya.

Keguguran
Potensi keguguran pada usia mapan juga sangat tinggi, mencapai 30 persen, akibat kelainan kromosom. Kehamilan di usia ini berisiko janin meninggal dalam rahim atau lahir mati.  Risiko semakin besar jika sang ibu mengidap penyakit seperti hipertensi dan diabetes. "Hal ini membahayakan bagi nyawa ibu maupun bayi," katanya.

Kelainan pada bayi
Risiko yang diderita anak saat ibu mengandung dalam usia matang di antaranya bayi dapat mengidap sindroma Down. Sindroma akibat penambahan satu kromosom di nomor 21 yang dikenal dengan trisomi 21.  

Risiko kehamilan dengan sindroma Down pada usia 20-an mencapai 1:1.667, sedangkan pada kehamilan di usia 45 tahun mencapai 1:30. Artinya, dari 30 kehamilan yang terjadi di usia 45 tahun, terdapat satu penderita sindroma Down.

Untuk itu, menurut dr Didi, wanita yang hamil di usia mapan perlu memeriksakan kandungan dengan dignosis prenatal. Gunanya unhtuk melihat apakah terjadi kelainan atau tidak. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan invasif atau noninvasif serta Genetic Sonograph.

Dr Didi menyarankan, ibu yang hamil di usia 37 tahun ke atas agar melakukan pemeriksaan serum maternal pada usia kehamilan 11-14 minggu. Lewat pemeriksaan USG, jika diketahui leher bayi lebih dari 3 mm dicurigai ada kelainan kromosom.

Uji Genetic Sonograph juga memperlihatkan adanya tanda kelainan jika tengkuk leher lebih dari 3 mm, lidah menjulur, panjang telinga hingga batas mulut, usus 12 jari buntu, ginjal melebar, telapak tangan lurus, serta adanya jarak antara ibu jari dan telunjuk kaki. "Jika hamil di atas usia 35 tahun, para ibu sebaiknya ekstra hati-hati dan konsultasikan kehamilan secara rutin," ia menyarankan.

Operasi Caesar berhubungan dengan Obesitas Anak

Bedah caesar seolah menjadi alternatif bagi wanita yang tak ingin merasakan sakit melahirkan normal. Selama 30 tahun terakhir, tercatat lonjakan jumlah wanita yang melakukan metode persalinan dengan bius sebanyak 250 persen. 

Terlepas popularitasnya, sejumlah penelitian menyebut  persalinan caesar berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak. 

Penelitian yang baru-baru ini dilakukan Imperial Collage London menyebut proses kelahiran caesar cenderung menghasilkan bayi yang kelebihan berat badan dibandingkan mereka yang lahir dengan proses alami.

Penelitian awal yang melibatkan 62 bayi ini mengungkap bahwa bayi yang dilahirkan dengan proses caesar memiliki lebih banyak lemak di hati, dibandingkan bayi yang dilahirkan dengan proses normal.

"Kami memiliki data awal yang menunjukkan bahwa proses kunci yang terjadi di hati untuk mengatasi lemak terganggu jika bayi tidak dilahirkan secara normal," ujar peneliti Professor Neena Modi kepada The Times, seperti dilansir Daily Mail. 

Percobaan lebih lanjut dilakukan untuk menguji teori yang mengatakan bahwa persalinan caesar dapat mencegah produksi hormon yang mengatur metabolisme selama kehidupan. Metode ini juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan enzim secara alami. 

"Sementara kelahiran secara normal dapat memicu proses metabolisme yang dapat mengontrol lemak," Modi menambahkan. 

Meski demikian, World Health Organization (WHO) telah mencabut anjuran pembatasan proses kelahiran caesar diseluruh dunia karena tidak memiliki cukup bukti terkait dampak negatif caesar.