Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

Saat Paling Menentukan Ketika Menyusui

Saat Paling Menentukan Ketika Menyusui
Menyusui
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Saat Paling Menentukan Ketika Menyusui - Saat paling menentukan dalam menyusui adalah 2 minggu pertama setelah melahirkan. Karena, pada masa tersebut mampu menentukan seberapa tingkat produksi air susu ibu (ASI) ketika menyusui.

2 minggu pertama setelah melahirkan merupakan saat yang tepat untuk melihat hasil dari ASI. Jika dalam kurun 2 minggu si bayi menyusui dengan kuat maka kedepan produksi ASI bisa dipatikan lebih banyak.

Mekanisme proses terbentuknya ASI di dalam payudara ibu menyerupai pabrik, semakin banyak permintaan makan akan semakin banyak pula ASI yang akan diproduksi. Jika permintaan sedikit maka akan berdampak pada menurunnya jumlah produksi ASI.

Untuk itu perawatan menyeluruh setelah melahirkan sangatlah diperlukan untuk merangsang produksi air susu ibi (ASI) agar lebih maksimal.

Namun, kenyataanya masih banyak ibu-ibu yang salah mempersepsikan bahwa menyusui bayi hanyalah nutrisi penunjang untuk bayi. Padahal manfaat ASI sangatlah banyak bahkan berdampat sepanang usia si kecil. ASI merupakan nutrisi utama bagi bayi dan merupakan bagian natural dari kehidupan.

Itulah mengapa kita harus meningkatkan kesadaran agar para ibu menyusui bayinya.

Untuk diketahui bahwa seluruh nutrisi yang dibutuhkan bayi terdapat pada ASI khususnya untuk 6 bulan pertama dan tetap dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan selama 1 tahun.

ASI mengandung kolosterum yang juga berfungsi sebagai antibody untuk melawan antigen penyebab infeksi. Jika pmbrian ASI tidak maksimal itu bisa saja meningkatkan resiko si kecil mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau bayi mati mendadak. Sedangkan pemberian makanan tambahan terlalu dini bisa beresiko menyebabkan diabetes di masa dewasa serta resiko terserang penyakit jantung.
- Saat Paling Menentukan Ketika Menyusui.

Angka Kejadian Diabetes Pada Anak Terus Meningkat

Angka Kejadian Diabetes Pada Anak Terus Meningkat
Diabetes
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Angka Kejadian Diabetes Pada Anak Terus Meningkat - Kencing manis atau diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang bersifat kronik dan terus meningkat jumlahlahnya di seluruh dunia, begitu juga di Indonesia. Sekarang diabetes tidak hanya menyerang usia dewasa tetapi juga usia anak-anak.

Sebuah penelitian unit kerja koordinasi endokrinologi anak di seluruh wilayah Indonesia pada awal Maret 2012 menunjukkan jumlah penderita diabetes usia anak-anak juga usia remaja dibawah 20 tahun terdata sebanyak 731 anak.

Sedangkan PDN (Pusat Diabetes dan Nutrisi) rumah sakit umum Dr. Soetomo Surabaya pernah mengklain pada tahun 2009 ada sebanyak 650.000 anak-aak Indonesia menderita diabetes mellitus dan sebagian besar diabetes tipe II. Jumlah ini didapat dari hasil perhitungan 5% dari total 13 juta penderita diabetes mellitus dari seluruh kelompok umur tahun 2009.

Sementara Ilmu Kesehatan Anak FFKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) melansir, jumlah anak yang terkena diabetes cenderung naik dalam beberapa tahun terakhir ini. Tahun 2011 tervatat 65 anak menderita diabetes, naik 400% dibandingkan tahun 2009. 32 anak diantaranya terkena diabetes tipe II.

Banyak orang mengira bahwa penyakit diabetes mellitus pada anak selalu tipe I, namun sekarang kenyataannya tipe II banyak diderita oleh anak-anak karena gaeya hidup.

Individu yang tidak menerapkan gaya hidup sehat beresiko menderita diabetes mellitus. Untuk itu hidup sehat harus selalu diterapkan dengan mengkonsumsi makanan sehat juga rutin berolahraga supaya gula darah tetap tabil berada dalam batas normal sehingga menghindarkan kita dari penyakit diabetes mellitus.

Kajian lain menyatakan bahwa, menangani anak penderita diabetes tipe II cenderung lebih sulit jika dibandingkan dengan orang dewasa. Sebagian besar diabetes di usia anak-anak terjadi karena obesitas. Jika para orangtua tidak segera menanggapi bahaya ini sejak dini maka akan mengakibatkan proses pengobatan yang kurang efektif.

Mengapa kurang efektif? Ini terjadi karena memberikan obat diabetes pada anak cenderung lebih sulit dibandingkan dengan orang dewas, ditambah lagi pemberian yang dilakukan secara menerus dengan jangka waktu yang panjang.

Dibutuhkan pendekatan psikologis dalam menangani masalah diabetes baik pada anak maupun orang dewasa.

Umumnya diabetes tipe II dialami oleh anak-anak karena mengalami defisit atau kekurangan hormon insulin yang disebabkan oleh kerusakan kelenjar pankreas. Rusaknya kelenjar pankreas biasanya terjadi karena autoimun. Kerusakan akan menimbulkan gejala bila sel yang rusak mencapai 90% atau lebih - Angka Kejadian Diabetes Pada Anak Terus Meningkat.

Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak

Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak
Peran Orangtua
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak - Kedekatan emosional antara orangtua dengan anak telah terbukti berdampak terhadap terjadinya kegemukan atau obesitas pada anak. Para peneliti menyatakan, seorang anak yang kerap tidak akur dan sering berselihih dengan orangtuanya memiliki resiko mengalami obesitas 2x lebih besar.

Studi terbaru yang dimuat pada of Paediatric menyatakan, seorang anak yang memiliki hubungan kurang baik dengan orangtua khususnya ibu memiliki resiko mengalami kegemukan atau obesita sebesar 26,1% ketika berumur 15 tahun. Sedangkan anak yang memiliki hubungan baik dengan si ibu hanya beresiko sebesar 13%.

Penelitian yang dipimpin oleh Prof Sarah Anderson ini menyatakan, hubungan secara emosional anak dengan ibunya secara tidak langsung bisa mempengaruhi pola makan pada anak. Orangtua yang renggang dengan anaknya rentan sekali kesulitan mengajari si anak bagaimana cara mengahadapi stres, akhirnya pola dan jadwal makan terganggu.

”Sebenarnya obesitas di usia anak-anak dapat dicegah dengan membina hubungan emosional antara anak dengan orangtua, daripada membuat aturan pola makan pada anak,” ungkap Prof Sarah Anderson.

Menurutnya, kemampuan seorang mengatasi stres bukan hanya berpengaruh pada pola dan jadwal makannya tetapi berpengaruh juga pada pola tidur. Anak yang rentan mengalami stres cenderung sulit memulai tidur, sehingga metabolismenya terganggu dan mengakibatkan obesitas.

Hubungan antara ibu dan anak yang kurang baik dianggap juga memiliki kedekatan emosional yang buruk. Hasil dari studi ini menunjukkan, faktor kedekatan emosi bukan hanya berpengaruh pada psikologis tetapi berpengaruh juga pada fisik si anak.

Kegemukan atau obesitas pada anak bisa berhubungan erat dengan resiko beberapa penyakit seperti diabetes mellitus juga penyakit jantung. Semua resiko ini sebenarnya bisa dihindari dengan mengatur pola makan, mengatasi stres dan olahraga secara rutin - Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak.

Rabu, 09 Mei 2012

Berat Badan Lahir Bayi Dipengaruhi Berat Badan Ibu

Berat Badan Lahir Bayi Dipengaruhi Berat Badan Ibu
Berat Badan Bayi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Berat Badan Lahir Bayi Dipengaruhi Berat Badan Ibu - Beberapa orang perempuan melahirkan bayi dengan bobot lahir yang tinggi. Bobot bayi ini bisa dipengaruhi oleh asupan nutrisi, kondisi kesehatan ibu, dan juga karena gen. Para ilmuwan menemukan bahwa bobot lahir bayi dipengaruhi variasi gen dari ibu dan nenek, namun pengaruh gen dari Ayah sangat minim.

Para peneliti sebelumnya telah mempelajari bahwa gen bertindak sebagai penekan pertumbuhan yang dapat mengurangi bobot lahir. Tapi sebuah penelitian di Inggris menemukan gen tertentu yang diturunkan dari ibu dapat membuat bobot bayi lahir bertambah 93 gram. Pertambahan bobot ini bisa mencapai 155 gram jika diturunkan oleh nenek dari pihak ibu.

Dalam artikel yang dipublikasikan di American Journal of Human Genetics, profesor Gudrun Moore dari University College London dan rekannya meneliti gen yang disebut PHLDA2 terhadap 9.500 sampel DNA dari ibu dan bayinya. Sampel ini dikumpulkan dari 3 penelitian yang terpisah. Peneliti menemukan varian gen yang disebut RS1 dapat mengubah fungsi gen sehingga menyebabkan bobot lahir bayi lebih tinggi.

"Gen memang memiliki pengaruh yang besar pada bobot lahir dengan bertindak sebagai penekan pertumbuhan. Kami menemukan varian genetik PHLDA2 yang diturunkan dari ibu dapat menyebabkan bayi terlahir 93 gram lebih berat di atas rata-rata. Bahkan bobotnya bisa mencapai 155 gram lebih besar di atas rata-rata jika diwariskan oleh nenek dari pihak ibu," kata Prof Moore seperti dilansir BBC News, Jumat (23/3/2012).

Variasi gen RS1 ini ditemukan pada sekitar 13% individu yang diteliti. Sedangkan variasi gen S2 sebanyak 87%. Variasi gen RS2 lebih umum ditemui dan variasi ini hanya ditemukan pada manusia. Adanya variasi gen RS1 dan RS2 ini membuat bayi terlahir lebih kecil.

Peneliti menduga, mekanisme ini merupakan efek perlindungan untuk meningkatkan kelangsungan hidup ibu saat melahirkan bayi. Artinya, berat lahir yang tidak terlalu berat akan memastikan ibu selamat saat melahirkan.

"Meskipun penelitian ini hanya melihat bobot lahir bayi, ada kemungkinan bahwa varian genetik ini memiliki pengaruh jangka panjang terhadap kondisi kesehatan. Pengaruh kesehatan tersebut sebagian disebabkan pengaruh bobot lahir dan sebagian lagi disebabkan faktor genetik," kata Dr Caroline Relton dari Newcastle University.

Bayi baru lahir umumnya memiliki bobot rata-rata 3500 gram dengan panjang badan 48 - 51 cm dan lingkar kepala rata-rata 35 cm. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengaruh gen dari Ayah terhadap bobot lahir bayi hampir tidak ada sama sekali.

"Gen dari Ayah kurang terlibat dalam evolusi. Mungkin karena kelangsungan hidup sang Ayah sendiri tidak dipertaruhkan dan dapat terus bereproduksi dengan perempuan lain," kata Profesor Moore. - Berat Badan Lahir Bayi Dipengaruhi Berat Badan Ibu.

Waspadai Kurang Minum Pada Anak

Waspadai Kurang Minum Pada Anak
Ilustrasi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Waspadai Kurang Minum Pada Anak - Mungkin penelitian baru dari Inggris ini akan membuka mata dan telinga kita lebar-lebar. Ternyata menurut studi tersebut, hampir dua pertiga anak-anak tidak minum cukup air saat sarapan agar terhidrasi dengan baik.

Tim peneliti dari University of Sheffield Medical School tersebut telah menganalisis 452 anak berusia 9-11 tahun dari 12 sekolah di daerah Sheffield. Penelitian ini pun dianggap sebagai yang pertama kalinya dilakukan di Inggris.

Hasilnya, ada 60 persen anak-anak di Inggris masuk kategori "tidak cukup terhidrasi" atau satu fase di bawah "dehidrasi klinis".

Untuk mendapatkan angka tersebut, peneliti mengamati apa yang dimakan dan diminum anak-anak sebelum berangkat ke sekolah. Peneliti juga mengukur osmolalitas urin, konsentrasi urin anak-anak yang merupakan indikator kunci kadar dehidrasi yang dialami seseorang.

Profesor Gerard Friedlander dari Descartes University Medical School di Paris yang mengawasi penelitian ini berkata, "Kami khawatir dengan temuan studi ini yang menunjukkan bahwa anak-anak tidaklah mengonsumsi cairan yang cukup di pagi hari untuk bisa mempertahankan hidrasi yang memadai.

"Padahal anak-anak lebih rentan terkena dehidrasi daripada orang dewasa karena tingginya rasio berat badannya. Anak-anak juga tak selalu memperhatikan rasa haus atau keinginan untuk minum sehingga mungkin tak secara alami ingin minum.

"Oleh karena itu sekarang kami akan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya hidrasi pada anak-anak dan mendorong para orang tua dan wali untuk memastikan anak-anak cukup minum pada saat sarapan sehingga anak-anak dapat mempertahankan hidrasinya, seandainya tak minum lagi sampai makan siang," ujar Profesor Friedlander seperti dilansir dari Independent, Jumat (4/5/2012)

Studi di Inggris ini menunjukkan angka dehidrasi lebih tinggi untuk anak laki-laki atau sebesar 68,4 persen dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya sebesar 53,3 persen.

European Food Safety Authority pun menyarankan agar anak laki-laki berusia 9-13 tahun untuk minum 2,1 liter cairan perhari dan anak perempuan harus mengonsumsi 1,9 liter.

Badan itu pun merekomendasikan anak-anak pada usia tersebut minum air sedikitnya 8 kali dengan gelas berukuran 150 ml perhari, sedikit lebih kecil daripada gelas ukuran yang direkomendasikan untuk orang dewasa.

Prof Friedlander menambahkan bahwa anak-anak yang tidak terhidrasi secara memadai saat sarapan berisiko terkena dehidrasi, kemungkinan pada saat jam makan siang.

Seperti kita ketahui, efek kurangnya hidrasi pada anak-anak dapat mempengaruhi performa mental seperti konsentrasi, memori jangka pendek dan pemberian perhatian. Bahkan kata profesor, dehidrasi ringan sekalipun dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, mulut kering dan penurunan jumlah urin, bahkan menghentikan air mata saat menangis.

Orang tua dan wali pun perlu menyadari bahwa anak-anak tak selalu memperhatikan rasa haus atau keinginan untuk minum seperti layaknya orang dewasa. Padahal penting bagi anak-anak untuk mengembangkan praktik-praktik hidrasi yang bagus sejak dini untuk menghindari isu-isu kesehatan pada saat dewasa seperti masalah ginjal.

Psikolog anak-anak Pat Spungin berkata, "Meski terkadang sulit mendorong anak-anak untuk minum air, terutama air putih, kuncinya adalah mendorong minum air sedikit-sedikit namun sering. Pastikan juga anak-anak minum segelar air sebelum berangkat ke sekolah atau mungkin mengepak sebotol air di tas sekolahnya sehingga bisa diminum secara rutin selama di sekolah." - Waspadai Kurang Minum Pada Anak

Selasa, 08 Mei 2012

5 Jenis Bekal Makanan Yang Kurang Sehat Untuk Anak

5 Jenis Bekal Makanan Untuk Anak Yang Kurang Sehat
Bekal Makanan Anak
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 5 Jenis Bekal Makanan Yang Kurang Sehat Untuk Anak - Untuk menghindari anak jajan sembarangan ketika di sekolahnya, ibu sering membawakan bekal makan siang untuk anaknya. Tetapi beberapa makanan yang Anda berikan sebagai bekal anak terkadang malah buruk untuk kesehatan anak.

Mungkin beberapa makanan akan lebih praktis untuk disiapkan di pagi hari sebelum anak berangkat sekolah. Tetapi Anda harus memperhatikan juga nilai gizi dan kebersihan suatu makanan sebelum memlilihnya sebagai menu bekal anak.

Berikut 5 jenis bekal makanan anak yang buruk untuk kesehatannya, seperti dikutip dari redbookmag, Selasa (8/5/2012) antara lain:

1. Biskuit buah

Anak-anak sangat menyukai biskuit dengan buah di dalamnya karena rasanya yang enak. Tetapi menurut dokter gigi, biskuit buah dan permen adalah penyebab kerusakan gigi yang nomor satu pada anak-anak.

Selain itu biskuit buah kadang dibuat menggunakan pewarna dan perasa buatan. Meskipun mengandung buah, biskuit buah mengandung buah asli yang telah kehilangan serat aslinya dan kandungan air yang terkandung dalam buah utuh.

2. Kue kemasan

Kue dalam kemasan mungkin memang lebih praktis untuk disiapkan sebagai bekal anak ke sekolah. Sayangnya, kue tersebut adalah salah satu sumber lemak trans yang merupakan tipe terburuk dari lemak makanan.

Kue buatan sendiri akan lebih sehat karena Anda dapat memastikan sendiri bahan-bahannya. Simpanlah dalam kulkas dan siapkan sebagai bekal makan siang anak Anda.

3. Jus kemasan

Terkadang ibu memasukkan jus yang dikemas dalam kotak atau botol ke dalam tas anak agar anak tidak jajan minuman yang tidak sehat di sekolah. Tapi ternyata jus kemasan bisa berbahaya untuk kesehatan anak Anda.

Jika gula telah bercampur dengan buah dalam bentuk jus dan dikemas, semua serat yang terkandung dalam buah akan hilang. Akan lebih baik jika Anda memasukkan buah utuh seperti apel atau jeruk ke dalam tas anak sebagai bekalnya.

4. Kerupuk

Anak-anak menyukai kerupuk yang renyah. Sayangnya, kerupuk tidak memberikan gizi pada anak. Kerupuk dibuat menggunakan pengawet yang dimasak dalam minyak yang tidak sehat.

5. Daging olahan

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan daging olahan seperti hot dog, chicken nugget, dan dendeng pada saat makan siang akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker tertentu.

Cobalah untuk menghindari daging olahan yang dikemas seperti hot dog dan sejenisnya karena mengandung pengawet makanan. Pastikan terdapat label 'alami' pada kemasan makanan yang Anda pilihkan untuk anak Anda - 5 Jenis Bekal Makanan Yang Kurang Sehat Untuk Anak.

Minggu, 06 Mei 2012

Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi

Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi
Operasi Caesar
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi - Bedah caesar adalah salah satu pilihan metode persalinan yang dapat menimbulkan risiko, baik bagi ibu maupun bayi. Namun tak sedikit yang masih berasumsi bahwa metode ini aman dan tidak akan memicu risiko kesehatan khususnya bagi bayi.

Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa bedah caesar tetaplah merupakan suatu prosedur persalinan yang sangat berisiko khususnya bayi.  Bahkan bedah caesar juga dinilai tidak banyak menolong bayi prematur yang tergolong small for gestational age (SGA) atau ukuran dan bobot badannya di bawah rata-rata. Penelitian di Amerika Serikat mengatakan bahwa bayi SGA yang dilahirkan melalui proses persalinan caesar mencatat kasus yang lebih tinggi sindrom gangguan pernafasan ketimbang bayi prematur yang lahir melalui vagina (normal).

Wakil direktur medis lembaga advokasi March of Dimes, Diane Ashton, MD, MPH, menyatakan temuan ini membalikkan kepercayaan selama ini bahwa persalinan caesar memiliki sedikit risiko atau bahkan tak menimbulkan risiko bagi kesehatan bayi.  Hasil penelitian ini juga sejalan dengan misi March of Dimes yang mendesak para tenaga medis untuk mengakhiri praktik persalinan yang tak perlu sebelum usia kehamilan mencapai 39 minggu.
"Meskipun dalam banyak contoh, operasi caesar secara medis diperlukan untuk kesehatan bayi atau ibu, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus cara ini tidak bermanfaat untuk beberapa bayi," kata Ashton.

Riset yang dipublikasikan dalam 32nd Annual Society for Maternal-Fetal Medicine Meeting, The Pregnancy Meeting ini dipimpin oleh Erika Werner F., MD, MS, asisten profesor Maternal Fetal Medicine di Johns Hopkins School of Medicine, yang bekerjasama dengan Heather S. Lipkind, MD, MS, asisten profesor Maternal Fetal Medicine di Yale School of Medicine.

Dalam risetnya, peneliti melakukan review akte kelahiran sebanyak 2.560 bayi dengan ukuran dan berat badan kecil yang lahir secara prematur. Proses persalinan secara caesar umumnya dilakukan pada bayi-bayi yang didiagnosis mengalami hambatan pertumbuhan intrauterin yang tidak berkembang secara normal di dalam rahim.

Dr Werner dan timnya menemukan bahwa bayi yang menjalani operasi caesar saat usia kehamilan belum memasuki 34 minggu memiliki kemungkinan risiko 30 persen lebih tinggi mengalami sindrom gangguan pernafasan ketimbang bayi yang lahir melalui vagina pada usia kehamilan yang sama.

Tingginya angka kelahir prematur (sebelum 37 minggu), masih menjadi masalah kesehatan yang cukup serius dan menelan biaya sangat besar di Amerika Serikat, lebih dari 26 miliar Dollar AS per tahun, menurut laporan Institute of Medicine 2006. Ini adalah penyebab utama kematian bayi baru lahir, dan satu juta bayi di seluruh dunia meninggal setiap tahun sebagai akibat lahir secara prematur.

Sementara pada bayi yang mampu bertahan hidup, umumnya sering menghadapi masalah kesehatan seumur hidup, seperti masalah pernapasan, cerebral palsy, ketidakmampuan belajar dan lainnya.

Para peneliti dari The March of Dimes mengatakan, jika kondisi kehamilan sehat dan tidak ada komplikasi yang mengharuskan lahir lebih awal, wanita harus menunggu sampai waktu persalinan itu tiba dengan sendirinya, atau setidaknya sampai usia kehamilan memasuki 39 minggu.

Mengapa? peneliti berangapan bahwa banyak organ penting bayi, seperti otak dan paru-paru, yang belum sepenuhnya berkembang sempurna pada usia kehamilan dibawah 39 minggu - Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi.

Makanan Untuk Bayi Sebaiknya Tidak Berbumbu

Makanan Untuk Bayi Sebaiknya Tidak Berbumbu
Makanan Bayi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Makanan Untuk Bayi Sebaiknya Tidak Berbumbu - Pemberian makanan bagi bayi usia di atas 6 bulan sebaiknya dilakukan secara bertahap, mulai dari yang bertekstur lunak, lembek hingga padat. Demikian juga halnya dengan cita rasa makanannya. Di usia kurang dari setahun bayi makanan bayi sebaiknya tidak berbumbu.

Hal tersebut karena di usia kurang dari 12 bulan cita rasa bayi belum berkembang sehingga disarankan untuk memberikan makanan yang tidak ditambahi bermacam-macam bumbu. Meski tidak berbumbu, bahkan tidak disarankan diberikan garam, namun bagi bayi tak berarti rasanya hambar karena sensasi perasanya belum sempurna.

Pengenalan rasa gurih bisa diberikan melalui penggunaan keju atau kaldu, baik ayam, ikan, atau daging.  Di usia 8 bulan, kandungan gizi bubur bisa ditambah sedikit-sedikit dengan zat lemak seperti santan dan minyak. Bahan makanan ini dapat menambah energi disamping juga rasa gurih.

Secara bertahap orangtua bisa memperkenalkan variasi rasa manis, asin, dan gurih yang berasal dari makanan. Variasi hidangan, baik dari pilihan lauk pauk atau penyajian, akan menggugah selera makan anak serta menghindarkan dari kebosanan.

Menurut Prof.Ali Khomsan, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor, menjelaskan untuk makanan manis sebaiknya tidak diperkenalkan terlalu dini. "Pengenalan rasa manis akan menimbulkan demand  sehingga anak maunya rasa manis terus menerus," katanya.

Pengenalan aneka jenis makanan, menurut Ali, kelak akan menghindarkan anak dari kesulitan makan di usia selanjutnya seperti pilih-pilih makanan atau hanya mau makan dengan menu favoritnya. "Keragaman menu juga akan menentukan kecukupan gizinya," imbuhnya - Makanan Untuk Bayi Sebaiknya Tidak Berbumbu.

Jumat, 04 Mei 2012

Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia

Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia
Myopia
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia Jumlah anak-anak kecil yang memakai kaca mata minus di perkotaan karena menderita rabun jauh alias mata minus lebih banyak ditemukan di perkotaan dibandingkan di desa-desa. Selain karena faktor genetik, gaya hidup juga berpengaruh karena sejak kecil orang moderen di perkotaan lebih jarang keluar rumah.

Di berbagai belahan dunia, jumlah penderita rabun jauh atau myopi terus meningkat dari masa ke masa. Di Amerika Serikat saja, populasi orang berkaca mata minus meningkat dari sekitar 25 persen pada tahun 1970-an menjadi 42 persen di awal tahun 2000.

Faktor genetik memang sangat berperan karena kadang-kadang sifat ini bisa diturunkan, namun itu bukan satu-satunya. Belakangan, gaya hidup di perkotaan yang jarang keluar rumah lebih sering dijadikan kambing hitam karena membuat mata jarang kena sinar matahari.

Otak dan mata berevolusi dengan sangat lambat, sehingga perkembangannya masih sama seperti pada nenek moyang manusia yang hidup jutaan tahun silam. Sinar matahari sangat mempengaruhi indra penglihatan karena hingga masa itu manusia lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.

Kini di zaman moderen, manusia lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan dan melihat dengan cahaya buatan yang berasal dari lampu. Perbedaan intensitas cahaya lampu dengan matahari memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan mata, khususnya jarak antara lensa dengan retina.

Karena cahaya lampu relatif lebih redup, berbagai komponen mata tidak berkembang dengan baik sehingga bayangan tidak jatuh tepat pada retina. Akibatnya penglihatan jadi kabur dan harus dibantu dengan kacamata minus agar pandangan jadi lebih fokus.

Teori ini bukan sebatas dugaan, karena sudah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Salah satunya seperti yang dimuat dalam jurnal Archieve of Opthamology, yang melibatkan anak-anak keturunan China usia 6-7 tahun yang tinggal di Australia dan Singapura.

Kedua populasi anak-anak tersebut memiliki faktor genetik yang sama, dalam arti jumlah orangtua yang juga mengalami rabun jauh. Namun populasi yang tinggal di Singapura, jumlah anak yang menderita rabuh jauh mencapai 29 persen atau 9 kali lebih banyak dari Australia.

Faktor yang membedakan antara keduanya adalah gaya hidup, karena ternyata anak-anak di Singapura lebih jarang beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak di Singapura rata-rata hanya keluar rumah 3 jam/pekan, sedangkan di Australia durasinya mencapai 14 jam/pekan.

"Untuk mengurangi risiko mata minus, caranya sangat mudah. Biarkan anak-anak bermain dan menghabiskan waktunya lebih lama di luar rumah," ungkap Sandra Aamodt, seorang profesor biologi molekuler dari Princeton University seperti dikutip dari NYTimes, Kamis (23/6/2011) - Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia.

Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh

Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh
Anak Rajin Belajar
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh - Karakter orang Asia yang tekun dan pekerja keras membuat pretasi belajar di kawasan ini relatif tinggi. Namun harga yang harus dibayar untuk prestasi tersebut adalah tingginya tingkat kerusakan mata, khususnya rabun jauh atau myopi.

Saat ini, diperkirakan 80-90 persen pelajar di Asia di beberapa kota besar di Asia menderita myopi atau rabun jauh dan harus menggunakan kacamata minus. Sebagian besar di antaranya berada di kawasan Asia Timur seperti Jepang, China dan Korea Selatan.

Bahkan menurut perkiraan tersebut, 10-20 pelajar yang mengalami myopi sudah bisa dikategorikan parah dan berisiko mengalami kebutaan permanen.

Dalam sebuah tulisan di jurnal Lancet, Prof Ian Morgan dari Australian National University mengatakan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah faktor pendidikan. Budaya pekerja keras di kalangan masyarakat Asia membuat para pelajarnya cenderung belajar terlalu rajin.

"Peningkatan kasus myopi di Asia mungkin berhubungan dengan peningkatan intensitas pendidikan. Apalagi belakangan ini, Asia Timur selalu mendominasi peringkat internasional dalam hal prestasi belajar," tulis Prof Morgan seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (4/5/2012).

Saat belajar, para pelajar tanmpa sadar cenderung membaca dalam jarak yang terlalu dekat agar posisinya lebih enak. Padahal jika dilakukan terus menerus, maka lensa mata akan melemah sehingga gampang terkena myopi atau sulit melihat obyek di kejauhan.

Selain itu, kurangnya aktivitas di luar ruang diyakini juga mempengaruhi tingginya tingkat rabun jauh atau myopi di kalangan para pelajar Asia.

Penelitian pada binatang menunjukkan, paparan cahaya matahari yang cukup bisa menjaga kesehatan mata karena dapat meningkatkan dopamin di retina. Senyawa ini dapat diyakini mengurangi risiko myopi seperti yang telah dibuktikan pada primata - Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh.

Rabu, 02 Mei 2012

Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit

Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Dewasa Lebih Sulit
Diabetes Mellitus
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit - Beberapa puluh tahun yang lalu, diabetes banyak dialami oleh orang dewasa. Namun akhir-akhir ini, diabetes tipe 2 juga banyak dialami anak-anak dan remaja. Sayangnya, diabetes jauh lebih sulit diobati pada anak dibandingkan pada orang dewasa.

Sebuah penelitian dilakukan untuk memeriksa pengobatan diabetes di masa muda dan ingin melihat efektifitas beberapa metode pengaturan gula darah pada remaja yang baru didiagnosis diabetes saat berusia 10 - 17 tahun. Para peneliti menemukan bahwa hampir separuh dari semua peserta gagal menstabilkan gula darahnya selama masa penelitian 4 tahun. Bahkan, 1 dari 5 orang peserta mengalami komplikasi serius.

Temuan ini cukup mengejutkan karena karena obesitas dan diabetes semakin meningkat jumlahnya di kalangan remaja. Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung, kehilangan penglihatan, gangguan saraf, amputasi dan gagal ginjal.

Sebelum tahun 1990-an, diabetes tipe 2 jarang ditemui pada anak-anak. Tapi karena anak-anak dan remaja di Amerika semakin banyak yang bertambah gemuk, jumlah kasus diabetes mulai meningkat. Sampai saat ini, diabetes tipe 2 masih jarang dijumpai pada anak-anak, tetapi jumlahnya terus meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2002 - 2005 saja, ada sekitar 3.600 kasus baru diabetes tipe 2 pada anak-anak dan remaja.

Dalam penelitian yang dimuat New England Journal of Medicine ini, peneliti memantau 699 orang remaja kelebihan berat badan dan obesitas yang baru didiagnosis diabetes. Sebagian besar peserta berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. 40% di antaranya adalah orang Hispanik, 33% orang Afrika Amerika, 20% orang kulit putih, 6% orang Indian dan kurang dari 2% adalah orang Asia.

Semua peserta diberi metformin, obat standar yang digunakan untuk mengatasi diabetes tipe 2 dengan cara menormalkan kadar gula darah. Peserta kemudian dibagi menjadi 3 kelompok untuk melihat kemampuan kontrol gula darahnya.

Kelompok pertama menggunakan metformin saja. Kelompok kedua mengunakan metformin ditambah dengan olahraga, diet intensif dan program penurunan berat badan. Sedangkan kelompok ketiga menggunakan metformin ditambah obat lain, yaitu rosiglitazone (Avandia).

Hasilnya, tingkat kegagalan tetap tinggi dalam ketiga kelompok. Sekitar setengah remaja dalam kelompok pertama gagal menurunkan gula darahnya, 47% peserta dalam kelompok kedua juga gagal dan 39% peserta pada kelompok ketiga juga sama.

"Tingkat keparahan penyakit metabolik ini pada anak-anak cukup parah. Saya takut anak-anak ini akan jatuh sakit lebih cepat daripada anak-anak pada generasi sebelumnya," kata peneliti, Dr David M. Nathan, direktur pusat diabetes di Massachusetts General Hospital seperti dilansir New York Times, Kamis (3/5/2012).

Para penulis hanya bisa berspekulasi mengapa diabetes sangat sulit diobati pada anak-anak dan remaja, yaitu bisa disebabkan oleh pertumbuhan yang cepat dan perubahan hormon selama masa pubertas.

"Lima puluh tahun lalu, anak-anak tidak menghindari obesitas dengan membuat pilihan yang sehat, mereka tinggal di lingkungan yang menyediakan lebih sedikit kalori dan banyak aktivitas fisik. Sebelum upaya membuat lingkungan yang mendukung anak-anak untuk makan lebih sedikit dan banyak bergerak berhasil, upaya pengobatan akan selalu gagal," kata Dr David Allen dari departemen pediatri di University of Wisconsin - Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit.

Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental

Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental
Ilustrasi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental - Belakangan ini sering terdengar banyak kasus tentang autisme pada anak. Cacat mental dan kelainan pada anak dapat diminimalisir dengan tindakan preventif dari sang ibu ketika hamil.

Studi baru menghubungkan peningkatan angka autisme secara dramatis dipengaruhi oleh mutasi genetik. Studi lain menyatakan autisme disebabkan oleh antidepresan dan faktor lingkungan lainnya.

Laporan terakhir mengatakan 1 diantara 88 anak menderita autis. Hal ini bukan berita yang mengejutkan lagi, mengingat dunia kini diliputi bahan kimia, stres, depresi, lingkungan yang kacau dan sejumlah besar penyakit.

Berikut 5 tindakan yang dapat dilakukan oleh ibu untuk mencegah kelahiran bayi dengan cacat mental seperti dikutip dari fitpregnancy, Selasa (24/4/2012) antara lain:

1. Jangan Terlalu Parno akan Keganjilan Otak Anak
1 dari 88 bayi menderita autis adalah statistik yang menakutkan. Tapi hal ini berarti masih banyak kemungkinan Anda melahirkan bayi yang sehat. Keganjilan pada otak bayi bukan hanya pertanda autisme tetapi mungkin saja anak memiliki otak yang jenius atau sangat sensitif, artistik, ilmiah, memiliki musikalitas tinggi, atau berbakat seperti Albert Einstein, yang sebelumnya dicurigai menderita autis. Lakukan kontrol ke dokter secara teratur terhadap perkembangan anak Anda.

2. Atasi stres
Stres dan depresi emosional merupakan kasus yang telah umum, khususnya di kalangan perempuan. Jangan menggunakan obat antidepresan untuk meredakan stres karena menurut beberapa studi sebelumnya hal ini berbahaya bagi janin.

Anda dapat mengurangi stres dengan melakukan meditasi, berolahraga, terapi atau mengonsultasikannya kepada dokter agar mendapatkan saran yang tepat.

3. Ubah Lingkungan Anda
Lingkungan rumah yang sehat akan membuat bayi dalam kandungan Anda juga tumbuh dengan sehat. Mulailah mengubah lingkungan Anda dengan membersihkan sumbatan di parit, membersihkan perabot rumah dengan bahan pembersih yang alami seperti baking soda, jus lemon, cuka dan air panas.

4. Mengubah diet Anda
Setiap makanan yang Anda makan akan diserap ke dalam aliran darah Anda. Pewarna dalam permen, perasa buatan dalam sirup dan pengawet dalam makanan kemasan akan ditransfer melalui plasenta yang dapat merangsang pertumbuhan otak kecil bayi dalam rahim Anda.

Jika Anda seorang pria, zat-zat berbahaya yang terkandung dalam makanan tersebut akan berpengaruh pada kualitas sperma. Sekarang ini sedang diadakan penelitian mengenai mutasi genetik yang dikaitkan dengan autisme dengan meneliti sperma.

5. Jangan Terlalu Over dalam Vaksinasi
Kekhawatiran mengenai risiko cacat mental yang mengancam jiwa anak Anda tidak harus diantisipasi dengan memberikan berbagai macam vaksin. Jika hal itu dilakukan maka akan membuat nyawa anak terancam karena pemberian vaksin yang tepat harus diberikan satu per satu sesuai dengan umur bayi. Konsultasikan dengan dokter sebelum memberikan vaksinasi pada anak Anda - Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental.

Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat

Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat
Jantung Sehat
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat - Sekarang ini semakin banyak anak yang berisiko memiliki kolesterol tinggi dan diabetes tipe 2 yang merupakan faktor risiko penyakit jantung. Tapi penelitian di Australia baru-baru ini menyatakan bahwa perubahan gaya hidup yang dibuat sejak masih anak-anak seperti olahraga teratur dan mengontrol berat badan, cenderung mengurangi risiko penyakit jantung di kemudian hari.

"Faktor risiko penyebab penyakit jantung dimulai sejak usia dini. Ubahlah gaya hidup anak Anda mulai dari sekarang untuk mempersiapkan tubuh yang sehat ketika dewasa," kata Robert W. Morrow, MD, direktur medis dari University of Arkansas for Medical Sciences College of Medicine di Little Rock.

Berikut adalah tips untuk membangun jantung sehat pada anak Anda seperti dikutip dari ivillage, Selasa (1/5/2012), antara lain:

1. Berpikir Kreatif
Jika anak Anda tidak menyukai olahraga yang terorganisir, temukan cara lain yang melibatkan aktivitas fisik dalam kehidupan Anda bersama anak sehari-hari. Anda dapat membuat anak melakukan banyak gerak misalnya memutarkan video yang berisi tarian-tarian dan mengajak anak untuk melakukannya bersama-sama.

2. Batasi Waktu Menonton TV
Terlalu lama menonton TV akan meningkatkan masalah kesehatan seperti diabetes jika dilakukan dalam jangka panjang. Selain itu, anak-anak perlu berinteraksi secara sosial dan tidak hanya duduk di depan TV atau bermain video game sepanjang akhir pekan.

Batasi waktu anak untuk menonton TV atau bermain video game dengan mengajaknya melakukan kegiatan menyenangkan di luar rumah seperti berkebun atau berenang.

3. Siapkan Makanan Bersama
Mengajak anak menyiapkan makanan bersama akan membantu anak mengenal beberapa jenis makanan yang sering dikonsumsi keluarganya. Pilihlah makanan yang sehat untuk kesehatan jantung dengan menu yang seimbang

4. Perhatikan Bahan Makanan
Perhatikan label daftar bahan makanan pada makanan kemasan yang Anda beli. Makanan olahan mungkin akan banyak mengandung natrium atau bahan kimia tertentu. Jangan memilihkan makanan ringan yang mengandung banyak natrium, pengawet ataupun lemak yang buruk u8ntuk jantung anak.

5. Membuat Tradisi Keluarga
Buatlah kebiasaan keluarga yang sehat seperti rajin bersih-bersih rumah, jalan-jalan keliling kompleks di sore hari dan membaca majalah kesehatan dan olahraga. Dari kebiasaan sehat orang tuanya, anak kan mengikuti tradisi hidup sehat hingga beranjak dewasa.

6. Berbicara dengan Anak Tentang Kebiasaan Sehat
Ajak anak membicarakan hal-hal kecil mengenai kebiasaan sehat ketika sedang bersantai bersama keluarga.

7. Berikan Penghargaan pada Anak
Terkadang anak hanya akan melakukan kebiasaan sehat yang menurutnya sulit dilakukan jika diberikan penghargaan tertentu dari orangtuanya. Daripada membelikan makanan seperti permen atau coklat, lebih baik berikan anak ayunan atau permainan lain yang bagus untuk gerak anak. Anak yang aktif bergerak akan membuat jantungnya sehat - Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat.

Senin, 30 April 2012

Anak Autis Karena Ibu Merokok

Anak Autis Karena Ibu Merokok
Autis
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Anak Autis Karena Ibu Merokok - Wanita yang merokok selama kehamilan cenderung melahirkan bayi yang menderita salah satu jenis autisme yaitu gangguan Asperger.

"Autisme adalah istilah umum untuk beberapa jenis gangguan yang merusak kemampuan sosial dan komunikasi," ungkap Amy Kalkbrenner, asisten profesor di University of Wisconsin-Milwaukee, Joseph J. Zilber School of Public Health dan ketua tim peneliti.

"Apa yang kami lihat adalah beberapa gangguan pada spektrum autisme bisa jadi dipengaruhi oleh faktor seperti apakah seorang ibu merokok selama kehamilan."

Angka ibu yang merokok selama kehamilan masih tinggi di Amerika Serikat meskipun banyak yang tahu bahwa hal ini dapat memberikan dampak yang berbahaya bagi bayi. Kalkbrenner pun menemukan bahwa 13 persen ibu yang anaknya dilibatkan dalam studi ini merokok selama kehamilan.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Environmental Health Perspectives ini, Kalkbrenner dan koleganya membandingkan data dari akte kelahiran ribuan anak dari 11 negara bagian dengan database anak yang didiagnosis menderita autisme yang dimiliki oleh CDC's Autism and Developmental Disabilities Monitoring Network (ADDMN).

Hasilnya, dari 633.989 anak yang lahir pada tahun 1992, 1994, 1996 dan 1998, 3.315 diantaranya diidentifikasi memiliki gangguan spektrum autisme pada usia 8 tahun.

"Studi ini tidak mengatakan secara pasti bahwa merokok merupakan faktor risiko autisme," kata Kalkbrenner seperti dilansir dari LiveScience, Senin (30/4/2012). "Namun studi ini menyatakan adanya kaitan antara merokok dengan tipe-tipe autisme tertentu". Kaitan itu pun membutuhkan studi yang lebih lanjut, tambahnya.

"CDC sendiri baru saja merilis data yang mengindikasikan bahwa 1 dari 88 anak-anak menderita gangguan spektrum autisme," katanya.

Karena autisme melibatkan spektrum yang luas dari kondisi dan interaksi genetika dengan lingkungan yang begitu kompleks, tidak ada studi yang bisa menjelaskan semua penyebab autisme, tambahnya. "Namun tujuan utama dari studi ini adalah untuk membantu menemukan salah satu jawabannya." - Anak Autis Karena Ibu Merokok

Minggu, 29 April 2012

Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri

Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri
Bayi Sehat
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri - Kehadiran buah hati yang sehat dan cerdas merupakan dambaan para orang tua . Sayangnya, proses tumbuh kembang si kecil kerapkali terganggu oleh berbagai masalah kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak diderita bayi dan anak-anak berusia di bawah lima tahun adalah diare dan alergi.

Cut Fabiayya, misalnya, menderita alergi dan mencret saat baru berusia lebih dari satu bulan. Bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal, begitu pulang dari rumah sakit, ia mendapat air susu ibu (ASI) secara eksklusif dari ibunya.

Setelah diperiksa dokter, ternyata ia menderita alergi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orang tuanya yang menderita asma. Penyebabnya, selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu untuk ibu menyusui dan beberapa jenis makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. Untuk mengurangi risiko alergi, selama menyusui, Rifsia, ibu dari Cut Fabiayya, lalu pantang makan ikan laut, kacang tanah, dan telur.

Hal serupa juga dialami Raka Pratama saat menginjak usia lima bulan. Karena sampai dua hari setelah lahir ASI ibunya belum keluar, Raka kemudian diberi susu formula. Beberapa hari kemudian, ia menderita panas tinggi, kulitnya kemerahan terutama di bagian muka, kaki dan badan. Setelah diberi antibiotik, Raka malah mencret sampai 15 kali dalam sehari, tinja yang keluar berlendir dan bercampur dengan sedikit darah, dan pada tubuhnya keluar bercak-bercak merah.

Karena ibunya memiliki riwayat menderita asma, dokter mulai mencurigai adanya gejala alergi susu sapi sehingga disarankan agar susu formula yang biasa dikonsumsi Raka diganti dengan susu formula berbahan dasar kedelai. Setelah diobati dan berganti jenis susu, diarenya cepat sembuh. "Bercak kemerahan pada kulit Raka juga hilang," kata Ny Titin, nenek dari Raka yang sehari-hari tinggal di Ciledug, Tangerang.

Awal kelahiran

Masalah diare dan reaksi alergi dialami bayi-bayi dan kelompok anak berusia di bawah lima tahun di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bila tidak segera diatasi, bayi dan anak balita yang menderita diare dan alergi akan terganggu proses tumbuh kembangnya pada periode emas pertumbuhan.

Hasil penelitian yang dilakukan Prof Bengt Björkstén dari Institut Karolinska Swedia Björksté n pada tahun 2001 membuktikan, bayi-bayi penderita alergi terbukti mempunyai lebih sedikit Bifidobakteria pada feses atau tinja hingga mereka berusia lima tahun. Sejumlah riset dalam 10 tahun terakhir juga membuktikan perbedaan mencolok komposisi mikrobiota bayi sehat dan alergi di negara-negara dengan prevalensi alergi rendah dan tinggi.

Menurut Bengt Björkstén, pengaruh kondisi awal kelahiran, termasuk cara kelahiran dan penggunaan antibiotik, mempunyai efek sangat besar terhadap pola mikroflora (jasad renik berukuran kecil seperti bakteri dan jamur) saluran cerna. Mikroflora itu sangat penting untuk merangsang sistem daya tahan tubuh dalam kondisi normal, ujarnya menegaskan.

Hasil penelitian (Gronlund et al, Clin Exp Allergy 1999) memperlihatkan, keberadaan bakteri menguntungkan seperti Bifidobakteria pada bayi yang lahir cesar akan tertunda, dan dibutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk menyamai bayi yang lahir normal. Oleh karena, bayi yang lahir cesar akan steril dari bakteri baik saat dilahirkan, sedangkan bayi lahir normal telah terpapar bakteri ketika dilahirkan.

Padahal bakteri baik seperti Bifidobakteria (kelompok bakteri menguntungkan atau probiotik di saluran cerna) yang diperoleh pada periode awal kelahiran, diperlukan untuk mengenali dan membentuk toleransi terhadap zat-zat asing yang masuk ke tubuh. Dominasi Bifidobakteria dalam saluran cerna terbukti dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen sehingga bisa membantu kekebalan lokal di daerah pencernaan pada bayi.

"Pentingnya peranan bakteri menguntungkan ini menjelaskan mengapa bayi yang dilahirkan secara cesar dilaporkan memiliki angka kejadian alergi dan infeksi yang lebih tinggi," kata Kepala Divisi Gastrohepatologi Departemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Prof Agus Firmansyah.

Probiotik

Sejumlah penelitian secara klinis menunjukkan, pemakaian beberapa jenis probiotik memberi efek sedang untuk mengatasi eksim pada bayi . Hal ini menarik untuk mengetahui potensi pencegahan alergi dengan mempengaruhi mikroflora saluran cerna melalui pemberian probiotik mikroorganisme non patogen yang memberi manfaat bagi yang mengonsumsinyapada bayi. "Tidak semua bakteri adalah probiotik," ujar Björksté n.

Penggunaan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan telah digunakan sejak lama dan telah terbukti keamanan penggunaan probiotik, bahkan pada bayi dan subjek yang daya tahannya agak lemah. Air susu ibu merupakan sumber alami probiotik. Ini menunjukkan pentingnya peranan probiotik sejak awal kelahiran. Bayi lahir normal yang diberi ASI akan makin sehat karena bakteri probiotik mendominasi mikrobiota saluran cerna, kata Agus.

Maka dari itu, beberapa tahun belakangan ini bakteri probiotik mulai diberikan kepada bayi dan balita dengan memperhatikan aspek keamanan. Hanya preparat probiotik yang sudah diuji secara intensif dan terbukti aman yang boleh diberikan. Probiotik Bifidobacterium lactis merupakan salah satu probiotik yang dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat-Obatan Amerika Serikat atau US-FDA, ujar Björkstén.

Sebagian besar riset tentang probiotik untuk anak-anak difokuskan pada pencegahan diare, kolik intoleransi laktosa, baru kemudian alergi. Pada tahun 1994, Saavedra dkk melaporkan penurunan drastis angka kejadian diare pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit yang diberi probiotik dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh probiotik.

Sejauh ini, ada empat penelitian terkontrol menggunakan plasebo yang memberi kan probiotik pada bayi usia 6-12 bulan. Tiga penelitian itu memperlihatkan pengurangan eksim pada anak-anak itu. Hasil temuan itu akan mendorong lebih banyak penelitian lanjutan untuk membuktikan bahwa pemberian probiotik akan mengurangi angka kejadian a lergi pada saluran napas di masa kanak-kanak.

Penyakit alergi itu bersifat kompleks dan penyebabnya multifaktorial. Probiotik telah diteliti untuk membantu mengurangi risiko munculnya reaksi alergi pada bayi. Penelitian itu masih berada di tahap awal dan hasilnya cukup menggembirakan yaitu muncul efek perlindungan signifikan dari probiotik untuk mencegah timbulnya atopik dermatitis .

"Memahami ekologi mikroba membuka cara baru untuk pencegahan dan terapi," kata Björkstén. Bersahabat dengan kelompok bakteri baik diharapkan bisa mengurangi risiko diare dan alergi pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan mengoptimalkan tumbuh kembang sang buah hati - Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri.

Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik

Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik
Anak Diare
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik - Kajian mengenai manfaat probiotik terus dilakukan para ahli. Dalam sebuah riset terbaru, para ilmuwan menemukan manfaat bakteri baik ini pada anak-anak, yakni mengurangi lamanya penyakit diare dan mencegah diare akibat penggunaan antibiotik.

Penelitian yang dimuat dalam laporan American Academy of Pediatrics ini disimpulkan dari beberapa riset berkualitas. Kendati demikian para ahli mengatakan belum ada bukti kuat untuk menyarankan penggunaan susu formula yang mengandung probiotik. Probiotik juga tidak disarankan untuk anak yang menderita penyakit berat.

Selama ini produsen makanan dan minuman probiotik selalu mengklaim produk mereka menyehatkan sistem pencernaan dan meningkatkan sistem imun. Padahal, belum ada riset yang bisa membuktikan secara akurat klaim-klaim tersebut.

Mencegah diare anak dengan probiotik. Dalam penelitian terbaru ini anak yang diberi probiotik sejak awal menderita diare akibat infeksi virus memang sembuh lebih cepat. Probiotik juga bisa mencegah diare pada anak-anak yang minum antibiotik.

Akan tetapi anak-anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan tubuh atau memakai kateter tidak disarankan mengonsumsi probiotik karena bisa menimbulkan infeksi serius.

Dr.Tod Cooperman, peneliti yang melakukan studi mengenai probiotik, menyebutkan yang harus diperhatikan adalah probiotik baru memberikan manfaat jika dikonsumsi dalam keadaan hidup.

"Harus diketahui bahwa organisme dalam probiotik, baik suplemen atau makanan dan minuman, sering kali sudah mati bahkan sebelum produk itu diberi label," katanya.

Dalam penelitian yang dilakukannya, produk makanan dan minuman probitok untuk anak hanya mengandung 7-21 persen probiotik dari jumlah yang disebut dalam label. Agar bakteri tetap hidup, produk harus disimpan di tempat yang terlindung dari panas, cahaya dan kelembaban - Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik.

Sabtu, 28 April 2012

Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui

Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui
Ibu Menyusui
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui - Manakah yang lebih baik, memberikan Air Susu Ibu (ASI) berdasarkan keinginan bayi atau harus disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan?Ternyata, hasil penelitian terbaru mengindikasikan bahwa aktivitas menyusui berdasarkan keinginan bayi (demand-fed) berkaitan dengan skor IQ yang lebih tinggi pada usia anak-anak, meski hubungan antara keduanya masih perlu diteliti lebih jauh.

Para ilmuwan dari Universitas Essex dan Universitas Oxford Inggris melakukan penelitian dengan cara mengkaji data  10.000 anak yang lahir di awal 1990-an di kota Bristol. Skor IQ anak usia 8 tahun yang ketika bayi menyusui berdasarkan keinginan (demand-fed) mencetak rata-rata empat hingga lima poin lebih tinggi dibanding anak yang menyusuinya berdasarkan jadwal (schedule-fed).

Seperti dipublikasi dalam jurnal European Journal of Public Health,  perbedaan skor IQ juga tampak ketika anak-anak menjalani tes pada usia lima, tujuh, 11 dan 14 tahun.

"Perbedaan antara anak yang menyusui berdasarkan keinginan dan jadwal ditemukan, baik pada bayi yang diberi ASI maupun susu botol," kata peneliti utama Maria Iacovou dari University of Essex.

"Untuk memberi kesan adanya perbedaan adanya empat atau lima poin lebih tinggi pada skor IQ pada sebuah kelas yang terdiri dari 30 orang misalnya, seorang anak yang tepat berada di peringkat tengah semisal peringkat ke-15, dengan perbaikan empat atau lima poin  IQ, akan mendapat peringkat lebih tinggi  antara ke-11 atau 12 di dalam kelas," tambah Maria

Meski demikian, Maria menekankan bahwa penemuan ini masih dalam tahap awal sehingga haruslah berhati-hati untuk menyimpulkan adanya hubungan pasti antara pola menyusui dengan skor IQ.

"Penelitian ini adalah yang pertama dan satu-satunya, dan penelitian lanjutan dibutuhkan sebelum kita dapat mengatakan secara pasti bahwa cara menyusui pada bayi akan memberi dampak jangka panjang pada IQ dan kemampuan akademis anak. Dan sebelum kita dapat mengatakan secara definitif mekanisme apa yang ada dibalik hubungan ini," tambahnya - Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui.

Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak

Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak
Binatang Peliharaan
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak - Semua anak pasti suka diberi mainan, namun jika diberi pilihan maka akan banyak yang memilih diizinkan memelihara binatang. Anak-anak adalah pencinta binatang, bahkan secara alamiah tidak memiliki rasa takut pada ular atau serangga.

Pada usia sekitar 11 bulan, anak-anak cenderung memiliki ketertarikan lebih besar terhadap kehidupan liar daripada mainan yang hanya benda mati. Daripada memberinya mainan, orangtua lebih disarankan memelihara binatang karena bisa membantu perkembangan mentalnya.

Sebuah penelitian di Rutgers University dan University of Virginia menunjukkan bahwa ketakutan terhadap binatang menyeramkan seperti ular dan laba-laba bukanlah sifat asli manusia khususnya anak-anak. Ketakutan itu baru muncul karena pengaruh lingkungan semasa pertumbuhan.

"Faktanya anak-anak melihat binatang itu sangat menarik, sehingga anak-anak bisa mendapat banyak keuntungan dari memelihara bintang," kata salah seorang peneliti, Vanessa LoBue seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (28/4/2012).

Binatang membantu perkembangan mental anak. Dalam sebuah eksperimen, para peneliti menemukan bahwa anak usia 11 bulan sampai sekitar 3 tahun lebih menyukai binatang seperti ular, tokek dan tarantula atau laba-kaba raksasa. Hanya saja karena berbahaya, binatang itu dimasukkan kandang sehingga tidak bisa disentuh langsung.

Namun setidaknya, dalam penelitian itu terbukti bahwa anak-anak cenderung lebih tertarik melihat binatang daripada mainan seperti boneka dan mobil-mobilan. Bahkan boneka berbentuk binatang tidak bisa memuaskan rasa penasaran anak-anak terhadap dunia satwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, para peneliti juga mengamati bahwa anak-anak lebih banyak bercerita atau bertanya tentang binatang daripada mainan. Menurut para peneliti, temuan ini membuka peluang bahwa rasa takut yang berlebihan atau phobia binatang bisa dicegah sejak kecil - Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak.

Jumat, 27 April 2012

Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan

Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan
Bayi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan - Bayi sangat rentan terhadap masalah pencernaan karena sistem pencernaan bayi belum dikembangkan sepenuhnya untuk mencerna makanan yang kompleks. Jika pencernaan bayi tidak benar, umumnya bayi akan menghadapi masalah pada lambung dan sembelit.

Kebiasaan makan bayi sangat berbeda dengan orang dewasa. Perut bayi butuh waktu untuk berkenalan dengan asupan makanan yang bervariasi. Meskipun masalah ini tidak serius dan bayi dapat mengatasi masalah ini seiring berjalannya waktu, tetapi jika hal ini terus terjadi terlalu lama, bayi perlu mendapatkan perawatan medis.

Berikut beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan bahwa bayi Anda mengalami masalah pencernaan seperti dikutip dari onlymyhealth, Jumat (27/4/2012) antara lain:

1. Menolak makan

Ketika bayi menderita masalah pencernaan, kerongkongannya juga akan terpengaruh. Hal ini menyebabkan bayi merasakan sensasi panas di perut, yang mengakibatkan hilangnya nafsu makan.

Bayi jadi kesal dan menunjukkan perubahan suasana hati juga. Sehingga bayi akan menolak makanan yang Anda berikan dengan menangis.

2. Terus menerus cegukan

Masalah pencernaan dapat meningkatkan jumlah asam pencernaan di dalam perut bayi.

Asam tersebut akan meningkatkan kandungan udara di perut yang dapat menyebabkan kram pada otot kerongkongan. Karena kontraksi otot ini, bayi akan mengalami cegukan terus menerus.

3. Kesulitan bernapas

Kandungan asam yang tinggi dalam perut bayi menyebabkan penyumbatan di saluran pernapasan bayi.

Hal ini dapat mengembangkan masalah pernapasan pada bayi dan dapat menyebabkan asma juga.

Selain itu, iritasi terus menerus di saluran udara dapat menyebabkan batuk. Selama siang hari, kondisi ini dapat dikendalikan karena bayi terus bergerak, tapi setelah tidur di malam hari, kondisi ini akan semakin parah.

Kadang-kadang dapat menyebabkan terhalangnya sirkulasi udara pada rongga hidung yang dapat berakibat fatal bagi bayi.

4. Muntah

Kadang-kadang, bayi akan memuntahkan makanannya karena sistem pencernaan yang lemah. Bayi yang tidak dapat memproses makanan memuntahkan makanan yang Anda berikan.

Jika bayi menunjukkan gejala-gejala yang disebutkan di atas, berarti bayi Anda memiliki masalah terhadap pencernaannya dan memerlukan perawatan dan pengobatan yang tepat.

Masalah pencernaan bayi adalah masalah serius yang harus diperhatikan sebelum menjadi rumit dan berakibat fatal bagi bayi Anda - Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan..

Kamis, 26 April 2012

Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker

Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker
Air susu ibu (ASI)
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker - Air susu ibu (ASI) diketahui mengandung berbagai nutrisi yang sangat berguna bagi bayi. Ternyata salah satu kandungan protein dari ASI ini memiliki sifat sebagai anti kanker.

Studi menunjukkan tingginya kadar protein TNF-related apoptosis inducing ligand (TRIAL) di dalam susu manusia merupakan salah satu sumber aktivitas anti kanker dari ASI.

Para peneliti mengambil sampel dari kolostrum (susu pertama yang keluar untuk bayi baru lahir) serta ASI dari perempuan yang baru menjadi ibu. Lalu peneliti juga mengambil sampel darah dari perempuan sehat serta susu formula.

Ibu-ibu yang terlibat dalam penelitian ini telah dites terlebih dahulu dan memenuhi syarat karena tidak menunjukkan tanda-tanda eklampsia, infeksi atau demam, sehingga bisa melahirkan bayi yang sehat.

Selanjutnya peneliti mengukur tingkat TRAIL dari kolostrum, ASI, darah (serum) dan susu formula. Ditemukan kolostrum dan ASI mengandung 100-400 kali lipat kadar TRAIL yang lebih tinggi dibanding darah, sedangkan pada susu formula tidak ditemukan TRAIL.

"TRAIL merupakan kandidat kuat untuk menjelaskan efek biologis secara menyeluruh dari menyusui dalam melawan kanker," ujar peneliti, seperti dikutip dari MedIndia, Kamis (26/4/2012).

Selain itu hasil studi ini juga menguatkan peran penting dalam pencegahan kanker pada anak, seperti kanker lymphoblastic leukemia, penyakit Hodgkins serta neuroblastoma yang banyak menyerang anak-anak.

Diketahui kanker anak terjadi sekitar 2-4 persen dari seluruh kasus kanker pada manusia dan menyebabkan 10 persen kematian pada anak. Kanker anak kemungkinan besar dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini.

Tapi sayangnya melakukan deteksi dini kanker anak tidaklah mudah, karena anak-anak belum dapat memahami dan menceritakan gejala yang dirasakannya. Karena itu peran orang-orang di sekitarnya sangat penting dalam mendeteksi adanya gejala-gejala kanker - Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker.